Sejak 1998 hingga 2026 penandatanganan investasi INPEX Blok Masela, pembangunan di Tanimbar masih memperlihatkan ketimpangan serius antara kepentingan industri dan penguatan kapasitas masyarakat lokal.
Pemerintah dan perusahaan cenderung fokus pada percepatan investasi, namun gagal mempersiapkan sumber daya manusia lokal menjadi tenaga profesional yang siap terlibat dalam operasional industri energi. Akibatnya, masyarakat hanya diarahkan menjadi tenaga buruh, bukan aktor utama pembangunan.
Di sisi lain, sosialisasi mengenai dampak proyek terus dilakukan, tetapi minim solusi konkret terhadap ancaman deforestasi dan hilangnya tanah adat sebagai warisan leluhur masyarakat Tanimbar.
Masyarakat hanya dijadikan objek administratif dalam proses AMDAL tanpa pelibatan substantif dalam pengambilan keputusan.
Lemahnya implementasi CSR, tidak berkembangnya UMKM lokal, minimnya pendidikan vokasi, serta diabaikannya penguatan pendidikan berbasis industri menunjukkan bahwa pembangunan non fisik berjalan stagnan.
Ironisnya, program beasiswa seperti SKK Migas Cepu yang telah meluluskan puluhan mahasiswa lokal belum mampu menciptakan ruang implementasi ilmu. Setelah menyelesaikan pendidikan, mereka hanya dikembalikan ke daerah tanpa kepastian kerja maupun ruang pengembangan kompetensi.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa pembangunan SDM masih bersifat simbolik dan belum diarahkan untuk menciptakan kemandirian masyarakat lokal secara berkelanjutan.
Pimpinan Redaksi Mat Sukeni
Detikdki.com
Ellon





















