Silsilah dan Perjuangan Dakwah Sunan Gunung Jati di Tanah Cirebon menurut Mas Raden MH Agus Rudianto Astrodiarjo, SH. MH
CIREBON,
Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah tercatat sebagai salah satu anggota Walisongo yang paling berpengaruh dalam penyebaran Islam di Jawa Barat. Selain sebagai ulama, beliau juga pendiri dan raja pertama Kesultanan Cirebon.
Hal itu disampaikan Ketua Umum PW FRN, Mas Raden MH Agus Rudianto Astrodiarjo, SH. MH., saat ditemui di Cirebon, Rabu 3 September 2026.
Menurut Mas Raden Agus, Sunan Gunung Jati lahir pada 1448 M. Ayahnya adalah Syarif Abdullah Umdatuddin, keturunan Nabi Muhammad SAW dari jalur Mesir dan Champa. Ibunya, Nyai Rara Santang atau Syarifah Mudaim, merupakan putri dari Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi dari Kerajaan Pajajaran.
“Silsilah inilah yang membuat dakwah beliau sangat kuat. Ada garis kenabian dari ayah, dan ada garis raja dari ibu. Masyarakat Sunda jadi lebih mudah menerima Islam karena pemimpinnya masih keturunan Prabu Siliwangi,” ujarnya.
Mas Raden Agus menjelaskan, masa muda Sunan Gunung Jati dihabiskan untuk menuntut ilmu di Mekah, Mesir, dan Baghdad. Sekitar usia 20 tahun beliau kembali ke Nusantara.
“Setelah singgah di Demak dan Ampel, beliau menetap di Cirebon atau Caruban. Di sinilah beliau mendirikan Kesultanan Cirebon dan menjadi Sultan pertama dengan gelar Pandita Ratu,” jelasnya.
Dalam berdakwah, Sunan Gunung Jati menggunakan pendekatan santun dan menghargai budaya lokal. Ia dibantu panglima perangnya, Fatahillah, untuk memperkuat Islam di pesisir utara Jawa sekaligus menghadapi Portugis.
Sunan Gunung Jati wafat pada 1568 M di usia sekitar 120 tahun dan dimakamkan di kompleks Astana Gunung Jati, Cirebon.
“Makam Astana Gunung Jati sampai saat ini masih dikunjungi peziarah dari seluruh Indonesia. Setiap hari, ribuan orang datang untuk berziarah, berdoa, dan meneladani perjuangan dakwah beliau,” kata Mas Raden Agus.
Ia menambahkan, jejak Kesultanan Cirebon yang didirikan Sunan Gunung Jati juga diteruskan keturunannya yang memimpin di Cirebon, Banten, hingga Sumedang. Nilai toleransi dan kearifan lokal yang diajarkan Sunan Gunung Jati dinilai masih relevan untuk menjaga persatuan bangsa saat ini.
Redaksi
Ysf

























