HATI IBU MENYENTUH DUKA: Istri Gubernur Banten Hj. Tinawati Peluk Erat Keluarga Almarhum Arif Korban Tenggelam di Cisadane
TANGERANG,
Tangis haru pecah di sebuah rumah sederhana di RT 01 / RW 03, Kelurahan Babakan, Kecamatan Tangerang, Kota Tangerang. Duka masih begitu pekat menyelimuti keluarga almarhum Arif, bocah malang yang meregang nyawa setelah tenggelam di bantaran Kali Cisadane.
Di tengah isak tangis yang belum reda itu, sebuah ketulusan hadir. Istri Gubernur Banten, Hj. Tinawati Andra Soni,datang tanpa jarak, tanpa protokoler kaku. Ia menyambangi kediaman duka hanya untuk satu tujuan: memeluk duka keluarga almarhum.
Kedatangannya pada sore itu membuat suasana yang semula sepi menjadi hangat. Hj. Tinawati yang dikenal lembut dan dekat dengan warga, duduk lesehan bersama keluarga, menggenggam tangan ibunda almarhum Arif yang masih sesenggukan.
Tidak ada sambutan formal. Yang ada hanya empati seorang ibu kepada ibu lainnya.
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Saya atas nama pribadi dan keluarga besar Pemerintah Provinsi Banten turut berduka cita sedalam-dalamnya. Saya merasakan kesedihan Ibu. Semoga ananda Arif husnul khotimah, menjadi tabungan surga bagi kedua orang tuanya,” ucap Hj. Tinawati dengan suara bergetar.
Keluarga almarhum pun tak kuasa menahan air mata. Kehadiran sosok istri orang nomor satu di Banten itu menjadi obat, menjadi penguat bahwa mereka tidak sendiri dalam menghadapi cobaan seberat ini.

Bukan Sekadar Kunjungan, Tapi Pelukan Kemanusiaan

Bagi Hj. Tinawati, kunjungan ini bukan agenda politik. Ini adalah panggilan kemanusiaan.
Ia sengaja datang diam-diam, tanpa rombongan besar, agar keluarga merasa nyaman dan tidak canggung. Ia mendengarkan cerita kronologi kejadian dari keluarga, memberikan dukungan moril, dan mendoakan almarhum.
“Kehilangan anak adalah luka terdalam bagi orang tua mana pun. Kami hadir untuk menguatkan. Semoga keluarga diberikan ketabahan, keikhlasan, dan kekuatan,” tambahnya.
Warga sekitar yang ikut menyaksikan pun memberikan apresiasi. Sosok Hj. Tinawati dinilai sebagai figur ibu yang benar-benar hadir di tengah rakyat, bukan hanya saat suka, tapi juga saat duka.
“Kami terharu, Bu Gubernur mau datang langsung ke gang sempit kami ini untuk takziah. Ini bentuk perhatian yang luar biasa,” ujar salah satu warga.
Almarhum Arif sendiri dikenal sebagai anak yang baik dan periang di lingkungannya. Kepergiannya yang begitu cepat akibat tenggelam di Kali Cisadane meninggalkan duka mendalam bagi teman-teman sepermainannya.
Kunjungan diakhiri dengan doa bersama yang dipimpin tokoh agama setempat. Hj. Tinawati berharap, peristiwa memilukan ini menjadi pengingat bagi semua orang tua untuk lebih menjaga anak-anak saat bermain di sekitar aliran sungai, serta menjadi perhatian bersama akan pentingnya keselamatan di bantaran kali.
Sebelum berpamitan, Hj. Tinawati kembali memeluk ibunda almarhum. Pelukan yang dalam, pelukan seorang ibu yang memahami betapa beratnya kehilangan.
Di balik duka yang menyelimuti Babakan, hari itu ada kehangatan yang tertinggal. Bahwa di tengah cobaan, masih ada kasih sayang dan kepedulian yang tulus.
Redaksi

























