“Engkau akan lelah jika dalam hidup ini engkau terus berusaha memiliki apa yang tidak pernah tertulis untukmu” menggambarkan keadaan seseorang yang menghabiskan seluruh tenaga, pikiran, dan perasaannya untuk mengejar sesuatu yang belum tentu menjadi bagian dari takdirnya. Terkadang yang membuat hati lelah bukan karena kurang berusaha, melainkan karena terus memaksa kenyataan agar sesuai dengan keinginan.
Manusia sering berkata:
“Aku harus mendapatkannya.”
“Aku tidak bisa hidup tanpa itu.”
“Aku harus memiliki orang, jabatan, atau hal tersebut.” Padahal tidak semua yang diinginkan akan menjadi milik kita.
Ungkapan ini bukan mengajarkan untuk menyerah atau berhenti berikhtiar. Islam mengajarkan usaha yang sungguh-sungguh. Namun setelah berusaha, seseorang perlu belajar menerima hasil yang Allah tetapkan.
Karena ada perbedaan antara: berjuang dengan penuh ikhtiar, dan memaksa takdir agar tunduk kepada keinginan diri.
Ketika seseorang terlalu melekat pada sesuatu yang bukan bagiannya, ia akan dipenuhi:
kecemasan,
kekecewaan,
kemarahan,
dan kelelahan yang berkepanjangan.
Sebaliknya, ketika ia memahami bahwa Allah tidak pernah salah dalam membagi rezeki, jodoh, kesempatan, maupun jalan hidup, hatinya akan lebih tenang.
Pesannya adalah lakukan yang terbaik, berdoalah dengan sungguh-sungguh, lalu serahkan hasilnya kepada Allah. Jika sesuatu memang ditakdirkan untukmu, ia akan datang pada waktunya. Jika tidak, maka Allah sedang menyiapkan sesuatu yang lain.
Pada akhirnya, banyak kelelahan dalam hidup bukan berasal dari perjalanan yang ditempuh, melainkan dari usaha menggenggam sesuatu yang sejak awal memang tidak ditakdirkan untuk menjadi milik kita. Wallahu ‘Alam
Redaksi//
Detikdki.com
Diuraikan oleh: @rizkytarmasi





















